Memoles Citra, Menggalakkan Wisata

 

Aljazair, sering dikaitkan dengan tindak kekerasan dan aksi teror. Citra ini hendak diubah, dengan membuka negaranya bagi para pelancong.Dengan dana petro dollar, Aljazair membangun sarana wisata secara besar-besaran.

 

 

 Aljazair,negara yang terletak di bagian utara Afrika ini, diwaktu belakangan sering  mendapat sorotan dunia, dengan terjadinya berbagai rangkaian aksi tindak kekerasan dan teror. Untuk mengubah citra negaranya, berbagai langkah dilakukan. Antara lain dengan membuka negaranya, bagi kegiatan  wisata. Langkah kearah itu disiapkan. Tidak hanya dengan menggelar  promosi wisata  diberbagai negara, termasuk di Eropa. Melainkan juga  membangun secara besar-besaran sarana pendukung  kegiatan pariwisata. Untuk membangunnya,  pemerintah Aljazair, tidak memikirkan masalah dananya.  Kekayaan minyak yang dimilikinya, memungkinan untuk melakukan pembangunan  sarana  wisata secara besaran-besaran.  Apalagi saat ini harga minyak bumi dipasaran dunia meningkat dengan drastis. Dengan menggalakkan kegiatan wisata, Aljazair hendak memoles citranya, dengan menjadikan negaranya sebagai tempat  tujuan wisatawan:

Untuk membangun sarana pariwisata dinegaranya, pemerintah Aljazair mengandalkan pendapatan minyak bumi. Dengan harga minyak bumi yang melejit mencapai 120 dollar perbarel diwaktu belakangan, pundi-pundi  pemerintah Aljazair semakin penuh dengan petro dollar.  Pada tahun 2006 lalu, Aljazair menangguk penghasilan dari penjualan minyak  mencapai 253 miliar dollar. Tahun 2007 lalu , angkanya  meningkat. Diperkirakan tahun ini, jumlahnya akan semakin meningkat.Nah dengan modal dana petro dollar itu, Aljazair melirik kegiatan wisata, dan melancarkan promosi  untuk menarik minat  pelancong  berkunjung kenegaranya.  Pemerintah Aljazair mencanangkan untuk ikut ambil bagian menikmati pertumbuhan usaha pariwisata didunia  yang tahun lalu mencapai angka enam persen. Aljazair memiliki kawasan yang dapat ditawarkan kepada para wisatawan. Antara lain, kawasan gurun Sahara, yang menarik bagi pelancong yang senang bertualang. Seperlima kawasan gurun Sahara dimiliki Aljazair. Selain itu, Aljazair memiliki puing reruntuhan  kerajaan Romawi. serta kawasan alam yang belum  terjamah.  Meskipun Aljazair memiliki kawasan pantai sepanjang 1200 km, negara ini hanya mampu menggaet  satu persen dari jumlah wisatawan yang melancong  kekawasan  Laut Tengah. Menteri Pariwisita Aljazair Cherif Rahman menyampaikan target yang hendak dicapainya. Yakni pada tahun 2025 mendatang, Aljazair dapat menggaet 11 juta wisatawan dalam setahun. Ia menambahkan:

“Kami sedang membangun, dan kami tidak dapat  mengharapkan dibulan mendatang akan  dapat menggaet  ratusan ribu wisayatawan. Kami  sekarang dengan sabar dan  secara bertahap membangun sarana dasarnya. Kami memerlukan  infra struktur dan  personal. Sebelum itu tersedia atau rampung kami tidak akan melakukan kampanye atau promosi secara besar-besaran”.

Sementara itu, hotel-hotel yang telah beroperasi di Aljazair, untuk liburan pertengahan tahun ini, telah habis dipesan. Terutama yang memesan adalah wisatawan domestik, yakni warga Aljazair sendiri. Disamping itu tercatat sekitar 1,7 juta wisatawan dari mancanegara. Sebagian besar adalah warga Aljazair dan keluarganya yang tinggal diluar negeri. Dan lebih dari setengah juta warga Eropa melirik Aljazair sebagai tempat tujuan wisata. Tapi selama ini, sebagian besar diantaranya pedagang atau pengusaha.

Aljazair memiliki rentangan sejarah yang panjang. Dengan membangun kawasan pemukiman, pada abad ke 19, Perancis mulai menapakkan kekuasaannya dinegara dikawasan Afrika Utara itu.  Perancis  memperkerjakan penduduk pribumi untuk mengembangkan kegiatan pertanian secara besar-besaran.  Kemudian pada tahun 1848, Perancis menyatakan Aljazair sebagai bagian dari wilayahnya. Untuk mengokohkan kekuasaannya, Perancis menumpas setiap gerakan perlawanan. Tapi rakyat Aljazair  tidak kenal menyerah. Secara serentak tanggal 1 November 1954, rakyat Aljazair  melancarkan perang  kemerdekaan terhadap penguasa kolonial Perancis. Akhirnya, pada tanggal 3 Juli 1962, Aljazair meraih kemerdekaan.  Kemudian terutama pada tahun 90-an, Aljazair diwarnai  dengan aksi teror dan tindak kekerasan, setelah kemenangan Partai Penyelamat  Islam FIS dalam pemilihan umum.Dewan Negara yang dikuasai kelompok militer mengambil alih kekuasaan dan menyatakan keadaan darurat.Serta melarang Partai Front Penyelamat Islam FIS.  Kelompok Islam ini melakukan  gerakan bawah tanah, dengan melancarkan perlawanan   aksi teror  serta  tindak kekerasan., dan mewarnai  kehidupan sehari-hari di Aljazair yang saat ini berpenduduk  sekitar 34 juta jiwa.

Dengan terjadinya berbagai tindak kekerasan, aksi teror  dan pertarungan kekuasaan  ditahun-tahun belakangan mengakibatkan  terabaikannya  kegiatan pembangunan dinegara ini. Disamping tentunya, menimbulkan situasi  keamanan yang rawan. Jadi tidaklah mengherankan, bila dibeberapa kawasan dinegara  ini, masih tetap dilakukan pengamanan dan  penjagaan yang ketat. Termasuk tentunya, kawasan wisata. Pengamanan  yang ketat, dan dapat munculnya ancaman serangan teror dan aksi kekerasan, membuat para wisatawan mancanegara berfikir dua kali untuk  melancong kenegara ini.  Gambaran ini yang hendak diubah pemerintah Aljazair, untuk dapat menarik  wisatawan. Menciptakan keamanan bagi para wisawatan dan melengkapi sarana pendukung kegiatan pariwisata. Mengenainya Jamal Zenguine. dari Badan Penanaman Modal  Asing di Aljazair menambahkan:

“Dari penghasilan minyak bumi, kami membangun infra struktur, jalan-jalan, jalur kereta api. bandar udara, pelabuhan laut dan lainnya. Kami juga membangun sarana yang diperlukan para investor. Aljazair saat ini, ibarat sebuah proyek bangunan raksasa. Dimana-mana dibangun perumahan, jalan, dan fabrik. Aljazair sekarang benar-benar merupakan proyek bangunan besar dialam terbuka”.

Selain bidang pariwisata, pemerintah Aljazair juga menggalakkan  pembangunan dibidang industri, pertanian, penangkapan ikan dan lingkungan. Untuk itu para investor asing tidak tinggal diam untuk ambil bagian. Penanaman  modal terbesar di Aljazair berasal dari negara-negara dikawasan Teluk yang kaya minyak. Perusahaannya membangun komplek perhotelan mewah dikawasan pantai, dengan meniru gaya arsitektur proyek yang sama di Dubai. Banyak beton dan kolosal. Mengenainya Menteri Pariwisata Aljazair  Cherif Rahmani mengatakan:

“Dimana- mana kami menyediakan 80 persen lahan hijau. Disebuah kawasan kota harus menunjukkan ciri modern. Apakah Anda suka atau tidak?. Semua kota besar didunia membangun gedung tinggi.Lihatlah proyek di Paris, New York, atau London. Orang tak dapat mengkritik kami, karena membangun gedung tinggi. Tapi saya tekankan, bangunan tinggi ini, harus dibatasi dengan persyaratan mutu dan tempat dimana akan dibangun”

Apakah kegiatan pembangunan diberbagai bidang yang saat ini sedang digalakkan pemerintah Aljazair, juga memberikan keuntungan bagi rakyat banyak?. Pemerintah Aljair mengatakan, rakyat banyak akan memetik keuntungannya. Antara lain , dengan tersedianya lapangan kerja. Untuk  sektor pariwisata akan dapat diciptakan 200 ribu lapangan kerja. . Belum lagi disektor  lainnya yang saat ini sedang  giat dibangun dan dikembangkan di Aljazair. . Meskipun demikian harus banyak yang mesti dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kehidupan rakyat. Mengapa?. Kepala perwakilan Lembaga Bantuan  Tehnik Jerman GTZ di Ibukota Aljazair, Aljier, Hans Karpe mengatakan:

“Aljazair telah melalui perjalanan yang amat sulit. Yakni melewati jaman perang kemerdekaan, yang menewaskan lebih dari 1,5 juta orang. Juga telah melewati jaman Arabisasi, yang memberikan dampak terhadap sistem  pendidikan. Jaman sosialis dan fundamentalis juga telah dilewati. Tapi sisa dan bekasnya, masih terdapat dimana-mana”.(ar)

diplomasi aljazair

Meski kerap dirundung pertikaian, Aljazair punya pengaruh diplomasi kuat di kawasan afrika dan timur tengah. aljazair pernah diminta Iran menjadi negosiator dengan Amerika Serikat dalam kasus penyanderaan 52 warga AS di Iran pada 1980. Aljazair juga dikenal sebagai pendukung kemerdekaan bangsa-bangsa, termasuk Palestina.
Meski menyebut dirinya sebagai negara yang sudah menjalankan demokrasi, baik Aljazair, Mesir, maupun Etiopia baru menjalankan demokrasi itu seperti kita pernah menjalaninya pada masa pemerintahan Orde Baru dulu. Bagi negara-negara barat, Aljazair di masa transisi ini lebih baik melaksanakan sistem demokrasi meskipun belum maksimal dengan pengawalan militer yang kuat, daripada dihinggapi situasi tidak stabil yang menyemai tumbuhnya gerakan Islam radikal dan pada gilirannya mengancam kepentingan negara-negara Barat. Rakyat Aljazair yang memberi suara perpanjangan jabatan kepada Presiden Bouteflika tentu berharap ada kesinambungan program reformasi yang telah bergulir sejak periode jabatan pertamanya dengan memanfaatkan kestabilan harga minyak dan gas yang telah memperkuat cadangan devisa negara hingga mencapai 21,5 miliar dollar AS pada akhir tahun 2003.
Prioritas hubungan luar negeri Aljazair mendatang diperkirakan difokuskan pada usaha menggerakkan kembali UMA sebagai organisasi yang strategis dalam menggalang persatuan dan kerja sama di tingkat regional. Prioritas lain adalah menggalang dan mengembangkan hubungan internasional dengan negara-negara Liga Arab, Afrika (African Union/AU), Mediterania, negara-negara Barat (UE, Amerika Serikat, dan Kanada), dan negara-negara berkembang lainnya di Asia dan Amerika Latin, disamping menggalang kerja sama di forum internasional, seperti kerja samaSelatan-Selatan pada GNB, G-15, G-77, OKI, dan lain-lain.
Aljazair juga mempunyai prioritas lain dalam hubungan luar negerinya, yaitu memainkan peranan dalam forum internasional guna memulihkan citra dan kredibilitas Aljazair di mata internasional, khususnya di mata negara-negara Barat, akibat aksi-aksi gangguan keamanan atau aksi teroris di dalam negeri. Aljazair selalu menyatakan dalam berbagai forum internasional mengenai perlunya pemberantasan terorisme melalui kerja sama internasional.
Selain itu, Aljazair juga telah mulai membuka diri. Bahkan, mengundang para peninjau internasional yang ingin melihat secara langsung situasi di Aljazair. Negara, organisasi internasional, dan LSM yang telah berkunjung keAljazair sejak tahun 1998 antara lain delegasi Troika Uni Eropa yang terdiri dari Inggris, Austria, dan Luksemburg; Parlemen Eropa “A panel of eminent personalities” sebagai misi informasi Eropa, dan Amnesty Internasional.

Militer Aljazair terlibat dalam pembantaian

Dua peneliti AS yaitu Lisa Anderson dari Columbia University dan Mary Jane Deeb dari Middle East Institute dalam kesaksian di Senat AS hari Rabu (3/10) menyatakan, bahwa kelompok garis keras dalam militer Aljazair dicurigai bertanggungjawab atas pembunuhan warga Aljazair. Selama ini kelompok radikal Islam selalu dituding oleh pemerintah Aljazair ada dibalik semua tindakan keji tersebut, namun belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa kelompok radikal itu yang melakukan pembantaian. Hasil analisa kedua peneliti AS itu menguatkan tuduhan kelompok oposisi Islam Aljazair (FIS) bahwa pihak militer yang bertanggungjawab atas pembantaian dan pembunuhan selama ini. Tapi keduanya mengakui bahwa konflik di Aljazair sangat kompleks dan sulit untuk menjelaskannya.

Rendah, Kepedulian Politisi dan Pejabat Pemerintah Aljazair terhadap Teknologi Internet

nternet memang media penting untuk informasi. Bahkan internet kini kerap digunakan sebagai sarana kampanye politik menjelang aktivitas pemilu di berbagai negara dunia. Tapi kampanye melalui internet nyaris tidak ditemukan di pemilu parlemen Aljazair yang akan diadakan pada 17 Mei mendatang.Sejumlah pengamat memandang langkah seperti ini merupakan cermin kemunduran teknologi lantaran para caleg lebih mengandalkan sarana konvensional dalam kampanye. Sejumlah politisi bahkan ada pula yang tidak mengetahui alamat website partainya sendiri di internet.

Menurut responden Islamonline, masalah gagap teknologi internet khususnya di Aljazair memang cukup memprihatinkan. “Yang paling tampak dalam beberapa hari pemilu saat ini, juga sikap banyak calon independen, adalah ketidaktahuan mereka dalam menggunakan internet sebagai sarana kampanye mereka. Mereka lebih mengandalkan cara konvensional untuk menyampaikan ide dan programnya.”

Masih menurut Islamonline, cara seperti itu masih ditempuh dengan mengumpulkan orang banyak di aula atau di suatu tempat tertutup dalam kunjungan para caleg ke berbagai daerah.

Meski demikian, penggunaan internet tidak terlalu menjadi kendala, khususnya bagi koalisi partai penguasa yang terdiri dari tiga partai penting semisal Front Pembebasan Nasional, Perhimpunan Nasional Demokratik dan Gerakan Masyarakat Damai (atau kerap disebut Hamas, Harakah Mujtama’ Silm). Mereka seluruhnya mempunyai situs sendiri di dunia maya yang memungkinkan masyarakat mengetahui program dan tawaran pemikiran yang diajukan.

Hasil investigasi terbatas yang dilakukan Islamonline menunjukkan, ternyata partai-partai ini tidak begitu peduli dengan sarana situs internet. Mantan Presiden dan Sekjen Partai Perhimpunan Nasional Demokratik Ahmad Oweihi misalnya, dalam siaran televisi mengaku tidak tahu alamat website partainya. Ia bahkan mengatakan tidak terlalu peduli dengan sarana internet sebagai media informasi dan komunikasi publik.

Sikap ketidakpedulian terhadap teknologi internet juga dialami sejumlah situs pemerintah di Aljazair. Misalkan saja, situs khusus Menteri Dalam Negeri, yang hingga kini tidak banyak meng-up-date pemberitaan soal perkembangan peristiwa dalam pemilu legislatif di Aljazair. Ini yang kemudian mendorong sejumlah insan pers Aljazair berinsiatif membuat situs sendiri dan memasukkan ragam berita up to date tentang perkembangan pemilu.

Menurut Ketua Perhimpunan Pengguna Internet Aljazair, DR. Qarar Yunis, “Ketidakpahaman para caleg Aljazair terhadap masalah internet kembali pada keterbatasan wawasan ilmu mereka pada umumnya. ” (na-str/iol)

Peluang Investasi Indonesia di Aljazair

Kelompok Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pelaku usaha Indonesia (PT. Virama Karya, PT. Laminar Tradindo dan Yola Consultant) mengadakan kunjungan ke Aljazair pada tanggal 4 – 9 Mei 2002, kelompok tersebut mewakili bidang usaha konstruksi infrastruktur dan perumahan, pengelolaan air limbah dan lingkungan hidup, pertanian dan perdagangan umum, dengan maksud kunjungan untuk melakukan penjajakan awal untuk menggali berbagai peluang usaha yang tersedia disamping untuk menggunakan secara optimal momentum pelaksanaan pembangunan yang sedang berlangsung dan terbuka luasnya pasar domestik di Aljazair.

Dalam pertemuan antara BUMN dan pelaku usaha Indonesia dengan pelaku usaha Aljazair, mendapatkan masukan berbagai peluang usaha awal bagi Indonesia untuk eksis secara nyata baik dalam proses pembangunan di Aljazair termasuk potensi pasar domestik bagi ekspor produk dan komoditi Indonesia.

Tawaran peluang usaha awal tersebut antara lain adalah, Perencanaan dan pembangunan perumahan/ apartemen + 2(dua) juta unit untuk masa dua tahun mendatang, fasilitas infrastruktur seperti jalan, jembatan, bendungan, water supply dan water treatment, pelayanan umum seperti rumah sakit, perhotelan, real estate dan kawasan industri.

Peluang usaha lain yang berupa aplikasi bioteknologi seperti pembuatan pupuk organik (kompos) dari limbah sampah atau bakteri, proses perencanaan dan pengelolaan limbah cair, penyulingan air laut (desalinated water).

Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) mendapatkan peluang juga yaitu berupa pengiriman tenaga ahli struktur dan bangunan untuk mendukung kapasitas sumber daya pengembang dan kontraktor lokal Aljazair yang dewasa ini menghadapi kekurangan.

Bidang Ekspo/impor, pihak Aljazair memberikan peluang pada kebutuhan pasar domestik terhadap komoditi Indonesia berupa kayu lapis, produk kayu, pulp dan produk kertas lainnya, bijih plastik (polypropilene) dan produk plastik lainnya, bahan baku sabun/ deterjen (soap noodles), susu bubuk dan suku cadang kendaraan bermotor.

Berkaitan dengan peluang yang diberikan oleh pihak Aljazair yaitu aplikasi bioteknologi di bidang waste water management system termasuk penjualan bakteri yang hanya ada di Indonesia, pengolahan air limbah menjadi air bersih, penyulingan air laut serta teknologi pembangunan infrastruktur Kementrian Sumber Daya Air, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kementrian Pembangunan Perumahan Aljazair menyambut secara positif atas kunjungan kelompok BUMN dan pelaku usaha Indonesia tersebut.

Dilain pihak KBRI Alger di Aljazair mengharapkan, agar hasil dari kunjungan tersebut dan peluang yang telah diberikan akan diikuti dengan komitmen untuk menindaklanjutinya secara nyata.

Ekonomi

Skala ekonomi Aljazair menempati urutan ketiga di benua Afrika setelah Afrika Selatan dan Mesir. Kaya akan cadangan minyak bumi dan gas alam, bahkan dijuluki sebagai “gudang minyak Afrika Bagian Utara”. Luas total daerah dengan cadangan minyak dan gas alam tercatat 1,6 juta kilometer persegi. Cadangan minyak yang telah terdeteksi mencapai 1,255 miliar ton, menempati peringkat ke-15 di dunia. Cadangan gas alam mencapai 4,52 trilyun meter kubik, menempati urutan ke-7 dalam hal cadangan maupun hasil produksi. Industri minyak bumi dan gas alam adalah soko guru ekonomi Aljazair. Pertanian berkembang lamban, kebanyakan bahan makanan dan barang untuk keperluan sehari-hari diimpor dari luar negeri.

Gerakan Politik Dan Partai Politik Di Aljazair

Sejarah gerakan Politik di Aljazair

kondisi politik Aljazair. Selepas dari cengkraman kolonialisme berbagai bangsa, negara di jazirah Afrika itu justru larut dalam konflik politik dalam negeri. Itu dimulai saat pemerintahan pertama Aljazair di bawah presiden Muhammad Ben Bella digulingkan oleh Panglima Angkatan Bersenjata Houari

Boumedienne. Kepemimpinan Aljazair selanjutnya silih berganti. Satu hal yang pasti, mereka semua harus jatuh bangun mempertahankan kekuasaannya dari berbagai pemberontakan dan pertikaian politik.

Bangsa pengembara Berber, diperkirakan menjadi penduduk asli negara dengan wilayah seluas 2,4 juta km2 di jazirah Afrika itu sejak tahun 3000 SM. Namun sistem kekuasaan pertama di sana, Kerajaan Kartago, di bangun oleh orang-orang Funisia pada tahun 1000 SM dan bertahan selama ratusan tahun sampai akhirnya diruntuhkan oleh serangan pasukan Romawi pada tahun 146 SM. Setelah kejatuhan Roma, Aljazair seperti kawasan Afrika Utara lainnya berada di bawah pengaruh Kristen yang kuat.

Islam sendiri masuk ke sana pada masa Khulafaur Rasyidin, sekitar abad ke-7. Islam mempunyai pengaruh yang kuat saat kawasan itu berada di bawah kekuasaan Turki Ottoman hingga abad ke-19. Tak mengherankan jika Islam menjadi agama yang dianut 99 persen penduduk Aljazair. Sejak 1830, Aljazair menjadi jajahan Perancis hingga merdeka pada 3 Juli 1962. Setahun kemudian, Bella terpilih sebagai presiden hingga dua tahun kemudian digulingkan Boumedienne.

Setelah berkuasa 16 tahun, pada 1978 Boumedienne meninggal karena sakit. Posisinya digantikan oleh Sekjen Front Pembebasan Nasional (FLN), satu-satunya partai di Aljazair bentukan Boumedienne, Chadli Benjedid. Benjedid melakukan reorientasi perekonomian dari industrialisasi yang sentralistis ke pertanian. Benjedid juga membebaskan Bella yang selama 14 tahun ditahan oleh pendahulunya.

Pada masa pemerintahan Benjedidlah pecah pemberontakan rakyat. FLN ditentang di mana-mana. Ini memaksa Benjedid menggelar pemilu multipartai untuk pertama kalinya pada 20 Juni 1990. Diluar dugaan, partai Front Penyelamat Islam (FIS) memenangkan 54 persen suara, sementara FLN hanya 28 persen. Kegagalam FLN dalam pemilu memaksa Benjedid mengundurkan diri. Secara sepihak, hasil pemilu dibatalkan. Para tokoh FIS pun ditahan.

Dengan alasan keamanan negara, kekuasaan diambil alih Badan Penasehat Presiden (HCS) yang menunjuk Mohammed Boudiaf sebagai presiden baru. Namun Boudiaf tewas di tengah perundingan damai dengan FIS. FLN tampil lagi sebagai partai berkuasa. Saat ini Aljazair dipimpin Presiden Abdelaziz Bouteflika dan kepala pemerintahan dijalankan PM Ali Benflis.

Meski kerap dirundung pertikaian, Aljazair punya pengaruh diplomasi kuat di kawasan tersebut. Ia pernah diminta Iran menjadi negosiator dengan Amerika Serikat dalam kasus penyanderaan 52 warga AS di Iran pada 1980. Aljazair juga dikenal sebagai pendukung kemerdekaan bangsa-bangsa, termasuk Palestina.

Wilayah Aljazair meliputi dataran rendah, pegunungan dan gurun sahara di selatan, yang meliputi 85 persen dari keseluruhan wilayah. Penduduknua mencapai 30 juta jiwa. Negara yang beribukota Aljeria ini, berbatasan dengan Laut Mediterania di utara, Mali dan Nigeria di selatan, Maroko di Barat serta Tunisia dan Libya di timur.

Partai Politik di Aljazair

1) Gerakan Nasional untuk Demokrasi

Gerakan Nasional untuk Demokrasi (bahasa Perancis:Rassemblement National Démocratique) adalah sebuah partai politik di Aljazair. Pemimpin partai adalah Ahmed Ouyahia Dalam pemilihan umum 2002, partai itu meraih 610.461 suara (8.2%, 47 kursi). Pada pemilihan umum kepresidenan 2004, Abdelaziz Bouteflika, sang kandidat partai menang dengan 8.651.723 suara (85%)

 

2) Front Pembebasan Nasional

Front de Liberation Nationale (جبهة التحرير الوطني) adalah sebuah partai politik di Aljazair. Partai itu dibentuk pada tahun 1954 Organisasi pemuda partai ialah Union Nationale de la Jeunesse Algérienne (Persatuan Nasional Pemuda Aljazair) Dalam pemilihan umum 2002, partai itu meraih 2.618.003 suara (35,3%, 199 kursi) Pada pemilihan umum kepresidenan 2004, Ali Benflis — sang kandidat partai — meraih 653 951 suara (6,4%)

3) Front Keselamatan Islam

Front Keselamatan Islam (bahasa Arab: الجبهة الإسلامية للإنقاذ, al-Jabhah al-Islāmiyah lil-Inqādh; bahasa Perancis: Front Islamique du Salut/FIS) adalah sebuah partai politik di Aljazair berideologi Islam

Sampai tahun 1988, satu-satunya parpol di Aljazair ialah partai pemerintah, FLN. Setelah terjadi pemberontakan dan penentangan terhadap pemerintahan dan FLN, Presiden Aljazair saat itu Chadli Bendjedid, yang notabene merupakan Sekretaris Jenderal FLN, melakukan reformasi dengan mengizinkan berdirinya berbagai parpol baru. Pada 1989 berdirilah FIS atas desakan masyarakat yang mayoritas Muslim. Mereka kecewa sebab satu-satunya partai yang dibentuk pada masa Presiden Boumedienne yakni FLN yang berasaskan sekular gagal mewujudkan kemajuan

Sebagai parpol Islam wajarlah FIS kemudian mengangkat isu seputar Islam. FIS menyodorkan program-program yang memikat simpati masyarakat Aljazair seperti ekonomi kerakyatan, mendukung terwujudnya kehidupan yang lebih Islami, demokratisasi, dan pemerintahan yang lebih dekat kepada Daulah Islam dibanding Barat. Dalam waktu yang singkat FIS berhasil menarik simpati masyarakat Aljazair yang mayoritas Islam. Hasilnya pada pemilu putaran pertama 20 Juni 1991, FIS memenangkan 54% suara dan mendapat 188 (81%) kursi di parlemen. Umat Islam Aljazair menyambut gembira kemenangan ini dan berharap FIS memenangkan pemilu putaran kedua. Sesuai dugaan, pada pemilu putaran kedua Desember 1991, FIS menang besar

Kemenangan FIS pada pemilu putaran I dan II menunjukkan jika rakyat Aljazair menginginkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan Islam.

Ideologi Aljazair

Inilah sedikit gambaran tantang asal mula permasalahan di negeri Aljazair dan sedikit sejarah yang menjelaskan mengenai peralihan sistem politik dari Otoritarian ke Sistem politik Demokratik

Dari beberapa data yang saya peroleh menjelaskan bahwa Aljazair adalah negara otoritarian dengan hanya satu partai politik, Front Pembebasan Nasional (FLN). Aljazair mengalami krisis ekonomi yang serius pada pertengahan 1980-an akibat dampak krisis ekonomi dunia yang diperburuk oleh jatuhnya harga minyak di pasar internasional. Padahal 90 persen lebih ekspor Aljazair berupa minyak dan produk terkait lainnya. Kegagalan ekonomi yang dijalankan pemerintah, utang nasional yang membesar, angka inflasi dan pengangguran yang tinggi, memberi dampak yang buruk bagi industrialisasi, pertanian, serta pelayanan publik dan sosial.

Pada Oktober 1991, Aljzair dilanda protes jalanan besar-besaran serta kerusuhan pangan. Gelombang demonstrasi rakyat berlangsung di seluruh negeri. Dimulai di Aljir, ibukota negara di Afrika Utara ini, demonstrasi itu dengan cepat menyebar ke banyak kota besar yang lain, termasuk Oran dan Constantine. Pemerintahan Presiden Benjedid kemudian menjanjikan kebebasan politik yang lebih besar dan demokrasi untuk menanggapi ketidakpuasan rakyat. Reformasi politik yang dilakukan Benjedid mencakup revisi konstitusi dan pada than 1989, revisi yang menghapus tradisi sosialis Aljazair. Langkah ini mengakhiri monopoli FLN atas negara dan mengubah Aljazair menjadi negara satu partai menjadi sistem politik multipartai yang kompetitif.

Pada 26 Desember 1991, Aljazair menyelenggarakan pemilu parlemen multipartai yang pertama sepanjang 33 tahun usianya. Pemerintah dan FLN maju ke pemilu dengan banyak keuntungan melalui pembagian distrik-distrik pemilihan yang menguntungkan FLN, mengontrol lembaga-lembaga negara, dan penahanan dua orang pemimpin Front Penyelamat Islam (FIS) yakni Al Madnai dan Belhadj serta 5000 pendukung mereka. Namun toh, dengan tingkat partisipasi pemilu sebanyak 51 persen, FIS berhasil memenangkan 47,5 persen suara atau 188 dari 231 kursi dalam putaran pertama pemilu. Rival terdekatnya, Front Kekuatan Sosialis, hanya mampu meraih 26 kursi. FLN terpuruk habis dengan 16 kursi saja. Sisa kursi yang seluruhnya 430 akan ditentukan dalam pemilu putaran kedua pada Januari 1992.

Dengan dalih mempertahankan keamanan dan stabilitas negara, pada tanggal 12 Januri 1992, hanya beberapa hari sebelum pemungutan suara, militer Aljazair melakukan intervensi, yang sebenarnya kudeta, untuk mencegah FIS meraih kekuasaan yang mereka peroleh dengan jalan demokratis. Militer memaksa Presiden Benjedid, yang dikhawatirkan telah menerima kemenangan FIS dalam pemilu dan ingin mengadakan perjanjian permbagian kekuasaan dengan FIS, untuk meletakkan jabatan. Militer kemudian menunjuk sebuah boneka Dewan Negara atau Dewan Keamanan Tertinggi untuk memerintah. Pemilu sebagai praktik demokrasi telah dilibas dan proses penindasan besar-besaran terhadap FIS dimulai. Aljazair adalah kasus jelas yang memerpilhatkan sikap double-standar negara-negara Barat. Mereka gembar-gembor sebagai pendekar pelindung demokrasi ini cuma omongan saja. Beberapa tahun yang lalu, diadakan
*pemilihan umum* pendahuluan di Aljazair. Partai Islam menang. Tiba-tiba pihak militer Aljazair membatalkan hasil pemilu ini. Apakah pihak militer ini bertindak demikian atas inisiatif sendiri ? Ada kemungkinan mereka sebenarnya cuma alat dari pihak luar. Baratpun diam-diam saja melihat hal ini. Pura-pura tidak tahu. As terutama Akhirnya terjadi perang antara mujahidin dan pihak militer Aljazair .

AL’JAZAIR

Aljazair terletak di barat-laut Afrika dengan pantai sepanjang Laut Tengah di sebelah utara, berbatasan dengan Tunisia di timur laut, Libya di timur, Niger di sebelah tenggara, Mali dan Mauritania di barat laut, dan Maroko di barat. Nama Algeria berasal dari nama ibu kotanya Algiers yang berarti kepulauan (al-jazā’ir, dalam bahasa Arab). Ini mungkin merujuk kepada 4 buah pulau yang terletak berdekatan dengan Algiers. Algeria merupakan negara kedua terbesar di benua Afrika. Negara ini merupakan salah satu dari beberapa Negara Africa yang memiliki wilayah cukup luas hamper 3x luas pulau iran atau berada pada rangking ke 10 setelah sudan dan Zaire. jumlah penduduk dibanding dengan luas wilayahnya relative jarang, masih lebih banyak penduduk jawa tengah. Aljazair merupakan Negara penambang gas alam terbesar di Africa, yang mempunyai cadangan terbesar ke-4 di dunia. Dari hasil pertambngannya, aljazair tampil di no ke-27 pertumbuhan industri dunia.

sEjaRaH sIngKat…

Penduduk asli Berber di Aljazair telah di bawah kekuasaan asing selama lebih dari 3000 tahun terakhir. Orang-orang Fenisia (1000 SM) dan Republik Romawi (200 SM) ialah yang terpenting, sampai datangnya orang-orang Arab di abad ke-8. Bagaimanapun, aliran penaklukan tak seluruhnya satu arah; di masa pertengahan Fatimiyah Berber, berasal dari Aljazair, mengambil alih Mesir, walaupun segera setelah itu meninggalkan Afrika Utara.

Aljazair masuk wilayah Turki Utsmani oleh Khair ad-Din dan saudaranya Aruj yang membuat pesisirnya basis corsair; [privateering] mereka yang dicapai puncaknya di Aljir pada 1600an, setelah pusat kegiatan dipindahkan ke Tripoli di Libya. Dengan dalih mengabaikan konsul-konsul mereka, Prancis menyerang Aljazair pada 1830; 14 Juni 1830, tentara Prancis mendarat di pantai Aljazair yang mengawali serbuan negara imperialis ini ke Aljazair. Prancis menghadapi perlawanan sengit rakyat Aljazair yang menolak penjajahan atas negeri mereka. Dengan berbagai cara, akhirnya Prancis berhasil menduduki Aljazair secara penuh tahun 1910.

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>Meski demikian perlawanan bersenjata rakyat Aljazair tetap berlanjut dan memuncak seiring dengan berakhirnya perang dunia kedua.tahun 1962, dengan semakin meningkatnya perlawanan rakyat dan tekanan dunia. perlawanan hebat dari sejumlah tokoh seperti Emir Abdelkader yang dibuat untuk penaklukan pelan-pelan di Aljazair, tak secara teknis selesai sampai awal 1900an saat Tuareg terakhir ditaklukkan.

Sementara itu, bagaimanapun, Prancis telah membuat Aljazair bagian integral metropolitannya, status status yang akan mengakhiri jatuhnya Republik Keempat. Puluhan ribu pemukim dari Prancis, Italia, Spanyol, dan Malta pindah menyeberangi Laut Tengah untuk bertani di Algerian daratan pesisir dan menduduki bagian yang paling berharga dari kota-kota Aljazair, mendapatkan keuntungan dari penyitaan tanah bersama yang dipunyai pemerintah Prancis. Orang-orang Eropa beranak pinak di Aljazair (yang disebut pied-noir), seperti penduduk asli Yahudi Aljazair, merupakan warga negara Prancis penuh yang sedang mulai dari akhir abad ke-19; dengan memperlihatkan perbedaan menyolok, kebanyakan Muslim Aljazair tetap di luar hukum Prancis, dan tak memiliki kewarganegaraan Prancis ataupun hak suara. Susunan sosial Aljazair diperlunak untuk maksud yang berubah selama masa ini: tingkat melek huruf jatuh secara hebat, sedangkan penyerobotan tanah menumbangkan kebanyakan penduduk.

Pada 1954, Front Pembebasan Nasional (FLN) melancarkan perang gerilya; setelah hampir 1 dekade perang di kota dan desa, mereka berhasil memaksa Prancis keluar pada 1962. Pada 25 September 1962, , Presiden Prancis saat itu Charles de Gaulle terpaksa menyetujui pemberian status kemerdekaan penuh kepada Aljazai, Ferhat Abbas terpilih menjadi presiden dari pemerintahan provinsional, dengan Ahmed Ben Bella sebagai perdana menteri. Kebanyakan 1.025.000 pied-noir, seperti 91.000 harki (Muslimin Aljazair pro-Prancis), atau hampir 10% penduduk Aljazair pada 1962, pergi dari Aljazair ke Prancis hanya sekian bulan dalam pertengahan tahun itu.

Presiden pertama Aljazair, pemimpin FLN Ahmed Ben Bella, didepak oleh mantan sekutunya dan juga PM, Houari Boumédiènne pada 1965. Negara itu kemudian menikmati hampir 25 tahun yang relatif stabil 1 partai sosialis milik Boumedienne dan para penggantinya.

Pada 1990-an, Aljazair dilanda perang saudara penuh kekerasan dan berkepanjangan setelah militer menghalangi ParPol Islam, Front Keselamatan Islam mengambil kekuasaan menyusul pemilihan multipartai pertama di negeri itu. Lebih dari 100.000 orang terbunuh, kebayakan dalam pembantaian penduduk sipil yang tak beralasan, oleh kelompok gerilyawan seperti Kelompok Islam Bersenjata.