Kebijakan tarif impor yang tinggi dan kurangnya promosi menjadi kendala serius bagi eksportir untuk mendorong ekspor nonmigas Indonesia ke wilayah Timur Tengah. Direktur Timur Tengah Deplu Aidil Chandra Salim mengatakan pelaku bisnis Indonesia belum sepenuhnya menggarap potensi ekonomi Timur Tengah yang kelebihan likuiditas US$2,5 triliun. Dia menuturkan tarif impor masih relatif tinggi di wilayah Timteng meskipun beberapa negara telah mengurangi pajak masuk untuk produk impor hingga menjadi lebih kecil dari rata-rata 5%.
“Namun, terdapat beberapa negara Timur Tengah seperti Aljazair, Sudan dan Arab Saudi, masih memproteksi produk pertanian mereka melalui tarif yang mencapai lebih dari 20%,” katanya dalam makalah seminar produk halal, pekan lalu.
Menurutnya, tarif yang tinggi membuat daya saing produk impor di pasar lokal. Penyerapan produk Indonesia kalah dibandingkan dengan negara nonmuslim seperti Filipina, Thailand, Australia, dan Selandia Baru.
Dia berharap ada peningkatan kerja sama perjanjian bilateral ekonomi antara Indonesia dengan negara-negara Petrodolar tersebut. Indonesia memiliki perjanjian bilateral perdagangan dengan Maroko (1988), Jordania (Trade and Economic Agreement 1986) Aljazair (1987), Yaman (Trade Agreement 1998 dan Trade Promotion Cooperation 2005) dan Kuwait (2007).
| Tarif Impor di Timur Tengah (%) |
|
Semua jenis |
Produk pertanian |
Produk industri |
| Aljazair |
16 |
22 |
14 |
| Bahrain |
5 |
22 |
4 |
| Sudan |
12 |
25 |
11 |
| Iran |
26 |
29 |
26 |
| Arab Saudi |
12 |
22 |
10 |
| Qatar |
4 |
8 |
4 |
| Suriah |
4 |
8 |
4 |
| Tunisia |
4 |
8 |
4 |
| Turki |
4 |
53 |
1 |
| UEA |
5 |
18 |
4 |
| Yaman |
6 |
5 |
6 |
| Oman |
5 |
21 |
4 |
| Maroko |
12 |
22 |
10 |
| Lebanon |
9 |
30 |
6 |
| Kuwait |
4 |
3 |
4 |
| Yordania |
12 |
22 |
10 |
| Mesir |
4 |
3 |
4 |
Sumber: ITC Comtrade Statistic
Aidil menjelaskan produk Indonesia di pasar Timteng memiliki nilai jual dan harga yang tinggi karena masuk melalui Singapura dan Dubai. Kondisi itu, ujarnya membuat produk RI kalah bersaing dengan komoditas negara lain.
“Selain itu terdapat hambatan teknis termasuk nontariff dan masih diperlukan legalisasi dokumen ekspor,” ujarnya.
Di samping itu, Aidil mengemukakan penyesuaian anggaran nasional dan penghematan biaya departemen teknis telah mengurangi kegiatan promosi Indonesia di luar negeri termasuk Timteng.
Dampaknya, partisipasi Indonesia pada pameran-pameran dagang internasional di wilayah Timteng selama 2007 tercatat berkurang sementara pesaing dari negara Asia lainnya getol mengikuti kegiatan tersebut.
Eksportir Indonesia, ujarnya, perlu memahami budaya bisnis Timteng yang mengutamakan tampilan produk, kualitas tinggi dengan harga murah, promosi langsung dari mulut ke mulut yang ampuh dan menonjolkan courtesy.
Kawasan potensial
Dia menambahkan wilayah Timur Tengah merupakan kawasan yang potensial sebagai sasaran ekspor nonmigas yang bervariasi dari Indonesia, tidak hanya mengandalkan produk industri otomotif dan telekomunikasi.
Aidil menjelaskan angka permintaan dalam negeri Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab untuk produk pertanian tidak seimbang dengan produksi yang didukung teknologi canggih.
Kondisi itu, ujarnya membuat negara-negara Petrodolar itu tetap mempertahankan kebijakan impor. Selain itu, ujarnya, sifat masyarakat Timur Tengah yang konsumtif, menjadi penyebab tingginya permintaan dalam negeri.
Pada 2006, impor migas negara Timur Tengah dari Indonesia mencapai US$55,59 juta, sedangkan impor nonmigas mencapai US$4,16miliar. Pada Januari-Oktober tahun lalu, impor Timur Tengah hanya mencatatkan transaksi pada nonmigas sebesar US$4,4 miliar. (fahmi.achmad@bisnis.co.id)
Oleh Fahmi Achmad
Bisnis Indonesia